Posted by: sara. on: Juni 25, 2007
Sebetulnya,
saRa agak ragu sih mau nge-post ini,, ntar dikira Shan-In versi cewek beneran oleh mbak Chika,,
he he
in spite of everybody’s thoughts, ini emang surat cinta yang terlupakan,, bukannya terlupakan sih,, dibuatnya aja spontan uhuuy waktu pelajaran bahasa Indonesia pas kelas 3 kmaren *cih, ngrasa udah lulus banget nih,, he he*,,
kata gurunya, “buat puisi ya, temanya bebas, asal ga yang aneh-aneh,. dan kumpul HARI INI JUGA!”
itu tuh yang bikin serem, jadinya saRa langgung aja nulis apa yang ada di pikiran saRa,,
kebetulan yang ada di pikiran saRa sepanjang hari tuh, yah dia, si anjing itu (bukan maksudnya ngatain loh, tapi julukannya tuh snOOpy),.
tapi sebelumnya, saRa kasih peringatan yah,
ini penuh dengan perasaan pribadi, dibuat dalam waktu singkat, tanpa grammar pembuatan puisi yang tepat, diikuti dengan foto yang ngga jelas dan ditulis oleh amatir,,
jadi, jangan sakit mata yah,, hehe,, kritikan dan saran selalu dibuka,,
tapi pertanyaan yang bertanya-tanya, blom tentu ada jawabannya ya,,
–
Kisah Untuk Anjingku
oleh Sara
Segalanya dimulai disini,
tarikan nafas,
tanpa kata-kata,
tak berkedip.
Alun denting lonceng beriring,
bayang melintas,
rintik grimis menyapu ukiran.
Ukiran kata
tak kunjung hilang,
delik yang tajam,
tawa yang singkat,
segalanya.
Kan kusambut untaian,
perih, dengki, tangis dan rintih.
hitam yang berasal dari putih,
untuk menjalin semua.
Karna badai tak kunjung reda,
dan lapang tak slalu lega.
Sanggupkah aku?
Saat jenuh itu tiba,
selenting nada yang sayup ini,
segalanya akan berakhir disini.
–
Mahkluk yang menjadi topik puisi ini..
(sengaja dihapus dari peredaran, takut ditangkep
)
hhhh…..
sekianlah sedikit puisi dari saRa,, cukup mengharukan kalau diingat-ingat pernah nulis puisi ini,,
nyomot dari mana-mana yah?
*Kisah Untuk Anjingku*
gw ngerti banget nih maksudnya..
![]()
Sabar.. sabar …
@ deking
yup, itu sasarannya,, ![]()
ga mirip anjing?? coba tambain kumis dikit, trus ada moncongnya, mirip deh
cintakuuu~ sedalaaam lautaaa~~~nnn….. *nyanyi2 ga jelas*
kebetulan aja kok sara agak bisa ngungkapin perasaan dengan puisi amatir gini
tidak ada yang perlu di-madesu-kan ![]()
kita semua kan punya kelebihan dan kekurangan masing2
*jdi OOT deh,,
*
[...] tentang anjing yang pernah sara sebutkan,. cowok [...]
Perih,dengki,tangis dan rintih
ada apa dengan “dengki”? kurang jelas bagian yang itu, he he he setidaknya puisinya enak dibaca dengan tanda tanya
Kakaknya gak bisa buat puisi ya, ck ck ck baru tahu
Salam Kenal
Puisi Paling Sedih
Aku bisa saja menulis puisi paling sedih malam ini.
Misalnya, menulis: malam penuh bintang, dan bintang bintang itu, biru,
menggigil di kejauhan.
Angin malam berkelit di langit sambil bernyanyi.
Aku bisa saja menulis puisi paling sedih malam ini.
Aku pernah mencintainya, dan kadang-kadang dia pernah mencintaiku juga.
Di malam-malam seperti ini, aku rangkul dia dalam pelukan.
Aku ciumi dia berkali kali di bawah langit tak berbatas.
Dia pernah mencintaiku, kadang-kadang aku pun mencintainya.
Bagaimana mungkin aku tak akan mencintai matanya yang besar dan tenang
itu?
Aku bisa saja menulis puisi paling sedih malam ini.
Kerna aku tak memilikinya. kerna aku kehilangan dia.
Kerna malam begitu mencekam, begitu mencekam tanpa dirinya.
Dan puisiku masuk dalam jiwa seperti embun pada rumputan.
Tak apa kalau cintaku tak bisa di sini menahannya.
Malam penuh bintang dan tak ada di sini dia.
Begitulah. Di kejauhan, seseorang menyanyi. Di kejauhan.
Jiwaku mati kini tanpa dia.
Kerna ingin menghadirkannya di sini, mataku mencarinya.
Hatiku mencarinya dan tak ada di sini dia.
Malam yang itu itu juga, yang membuat putih pohonan yang itu itu juga.
Kami, yang dulu satu, tak lagi satu kini.
Aku tak lagi mencintainya, benar, tapi betapa cintanya aku dulu padanya.
Suaraku menggapai angin hanya untuk menyentuh telinganya.
Milik orang lain. dia akan jadi milik orang lain.
Seperti dia dulu milik ciuman ciumanku.
Suaranya, tubuhnya yang kecil. matanya yang memandang jauh.
Aku tak lagi mencintainya, benar, tapi mungkin aku mencintainya.
Cinta begitu pendek dan memori begitu singkat.
Kerna di malam malam seperti ini dulu aku rangkul dia dalam pelukan,
jiwaku mati kini tanpa dirinya.
Mungkin ini luka terakhir yang dibuatnya,
dan ini puisi terakhir yang kutulis untuknya.
waduh gw ketinggalan nich
ru bc puisi nie
bagoes jg lho
lam kenal
lzZZ
Juni 25, 2007 pada 3:45 pm
Hahahahahhahahahahaha,,
Snoopy ya??
Gile betul,, kak Ma kira kamu terinspirasi gara gara komik itu,, ternyata bukan ya,,
eh, PERTAMAX!!!!!