Posted by: sara. on: Januari 24, 2008
lagu setegah abad yang berulang syairnya
pedih, pedih menyesakkan raga
senyum tipis yang tak bertahan lama di rautnya
silih berganti bersama untaian derai air mata
.
kapan pun mematikan radio usang itu
suara ricuh dan peluh tetap berputar dan berputar
ditutup mata sayu berkacamata penuh debu
dan mulai berjalan tanpa arah dengan telapak yang kasar
.
hanya tertegun dihadapan kaca dan tersenyum payah
tangan [...]
Yang nge-respon?