here we go, again.
lagu setegah abad yang berulang syairnya
pedih, pedih menyesakkan raga
senyum tipis yang tak bertahan lama di rautnya
silih berganti bersama untaian derai air mata
.
kapan pun mematikan radio usang itu
suara ricuh dan peluh tetap berputar dan berputar
ditutup mata sayu berkacamata penuh debu
dan mulai berjalan tanpa arah dengan telapak yang kasar
.
hanya tertegun dihadapan kaca dan tersenyum payah
tangan lelah yang ringkih meraba-raba
peninggalan dari masa kusam nan bahagia tinggal kisah
hanya kursi rotan kosong bergerak bersama
.
.
*sambil denger 1973-James Blunt berulang ulang kali*


wihiii sara bikin puisi!
keren
saysar…Komentar oleh cK — Januari 24, 2008 @ 12:38 pm
hohoho
Komentar oleh saRe' — Januari 24, 2008 @ 1:09 pm
Kamu kenapa sayang?
Kenangan…kah?
*hug*
Komentar oleh Goenawan Lee — Januari 24, 2008 @ 4:02 pm
Tinggal bikin aransemennya…
Komentar oleh adit-nya niez — Januari 24, 2008 @ 4:55 pm
@ Goen sayang

hohoho, maen peluk segalaa
bukan,, eh, ga tau juga sih
@ adit
aransemen apa???
Komentar oleh saRe' — Januari 25, 2008 @ 12:09 pm
bener kata adit. tinggal dibikin aransemennya. petikan gitar aja…dinyanyikan waktu hujan bersama secangkir cokelat hangat…
Komentar oleh niez-nya adit — Januari 25, 2008 @ 1:51 pm
@ niez
waah, sehati
Komentar oleh saRe' — Januari 26, 2008 @ 3:45 am
Puitis…
Komentar oleh Cynanthia — Januari 26, 2008 @ 1:54 pm
Puisi??

Ga kak Ma banget,,
Komentar oleh Rizma — Januari 28, 2008 @ 5:40 am
puisinya bagus
*komentar standar*
Komentar oleh itikkecil — Januari 29, 2008 @ 2:03 am
cowok emang gitu, makanya saya gak mau punya hubungan khusus ma cowok
*halah*
kok bisa sampe setengah abad gitu
*ckckckck geleng2*
Komentar oleh idham — Februari 2, 2008 @ 4:34 pm
*melow mode on* yang melow melow aku juga sukaaa
Komentar oleh Sarah — Februari 3, 2008 @ 2:00 pm